Senin, 29 Mei 2017

Anakmu, Cerminmu ...

Beberapa minggu yang lalu, saya kehilangan arloji. Bukan arloji mahal, tapi juga tidak murah. Mereknya ALBA.
Yang paling menyedihkan bagi saya, arloji itu adalah benda pertama yang dibelikan oleh suami dengan gaji pertamanya. Saya ingat, saya diajak ke mal, dan masuk ke toko khusus arloji dan dibelikan. Happy banget deh waktu itu. Itu arloji 'mahal' saya yang pertama. (Eh tapi berikutnya ya nggak pernah punya arloji mahal ding!)




Saat saya mengaduk isi tas, merogoh celana jeans (dengan wajah pucat), suami bertanya, "Ada apa?"
Ketika saya bilang bahwa arloji saya hilang, spontan dia bertanya, "Arloji yang dariku?"
Ada raut kecewa di wajahnya.
Ya, saya amat jarang mengenakan arloji lain. Selalu arloji itu yang saya pakai. Selain karena pemberian suami, saya juga cocok modelnya.

Suami menemani saya 'napak tilas' untuk mencari. Barangkali tercecer. Tapi nihil. Arloji itu menguap begitu saja.
"Kok bisa hilang? Kapan kamu melepasnya?"
Saya hanya bisa mengangkat bahu. Tidak ada ingatan secuil pun tentang adegan melepas arloji. Arloji itu ada di tangan saya. Kemungkinan besar, saya ngelamun lalu melepas arloji dan menaruh di somewhere over the rainbow ... *malah nyanyi*

Nyeseeeek banget rasanya. Rasanya 'gelo" banget.
Tapi suami akhirnya bilang, "Ya sudah. Semoga ditemukan oleh orang yang membutuhkan. Jangan sampai masuk got dan keinjek-injek,"
Haha ... iya bisa jadi sih kalo jatuh kan keinjek-injek dan kesepak masuk got.
Semoga ditemukan oleh orang yang membutuhkan. Rejekimu Bu/Pak ...

Seperti biasa, setiap ada kejadian, saya meyakini ini adalah buah dari perilaku saya sebelumnya.
Mengapa saya kehilangan arloji ini? Pasti Tuhan hendak mengingatkan sesuatu pada saya.
Saya pun introspeksi diri.

Saya teringat, beberapa hari sebelumnya saya marah sekali pada Gerald.
Menurut saya, Gerald itu ceroboh. Barangnya banyak yang hilang, dan selalu menjawab 'tidak tahu' ketika ditanya kronologi kehilangannya.
Saking pegelnya, saya waktu itu bilang, "Kok kamu nggak bisa kayak Mamah ya. Mamah seusiamu sudah bisa ini dan itu,"

Ya Allah, saya menyakiti hati bayi saya ini huhuhu.

Dan Allah segera mencelikkan mata saya, langsung lewat kejadian kehilangan arloji ini.
Semua orang, bisa kehilangan, tanpa tahu kronologi peristiwanya.
Saya juga kayak orang bego saat ditanya suami. Bener-bener gak ngeh, kapan dan di mana arloji itu raib.
Padahal, selama ini saya selalu murka jika Gerald pasang wajah oon kalo ditanya tentang barang-barangnya. 
Oalah ...

Saat Gerald tahu arloji saya hilang, spontan yang terucap dari mulutnya adalah, "Mama sama ya kayak Gerald,"
Plakkkk ... itu tamparan yang keras.
Saya nyinyirin dia agar primpen sama barangnya, jaga barangnya ... eh taunya saya menghilangkan barang saya sendiri yang bukan sekadar pensil, rautan, tempat pensil, botol minum dll.

Jadi, morale of the story adalah, jangan marah pada anak berlebihan.
Membandingkan diri sendiri dengan anak, itu ga perlu banget. Yaelah, kita yang tua gini aja bisa lalai kok, apalagi anak kecil yang otaknya masih berisi 'main, main dan main'.

Dan, apapun yang dilakukan anak-anakmu, sebenarnya itu adalah cermin dari dirimu. Entah dirimu di masa lalu, atau dirimu di masa yang akan datang hehe.
Namanya anak, pasti secara genetis ada dong ya ngikut ortunya.

Kembali tentang arloji ...
Saya masih sediiiih.
Tapi ya sudahlah. Kenangan terindah ada dalam ingatan, bukan dalam sebuah benda.
Setuju?
Setuju aja lah, daripada sedih.


Sidoarjo, 30 Mei 2017








Senin, 23 Januari 2017

Sales is always a SERVICE

Pada jaman dahulu kala, saya adalah seorang yang amat jutek.
Tidak mudah bertemu teman baru, tidak mudah ngobrol. Well, sampai sekarang pun sebenarnya masih begitu. Tapi udah berkurang banyak.

Yang berjasa pada perubahan diri saya adalah, sebuah perusahaan asuransi papan atas (no mention). Dulu, saya pernah mendapat training selama satu bulan di Jakarta, yang namanya 'SALES ACADEMY'.
Di sales academy itu, saya diajarkan untuk melayani. Bahkan, untuk bicara di telepon pun, ada tata caranya. Bibir harus selalu tersenyum, sehingga lawan bicaramu di seberang mendengar keramahanmu.

Di sana pula, saya diajari bahwa sales is always a service. Boleh saja kita jualan barang yang sama, harga yang sama (atau mungkin malah lebih mahal), namun selama service kita memuaskan, kita nggak usah takut kehilangan pembeli.

Takdir, membuat saya tidak bekerja lebih lanjut di bidang asuransi. Saya kemudian pindah ke bidang manufacturer. Tapi bener deh, semua yang saya dapatkan di sales academy, membuat saya lebih mudah menghadapi orang-orang dibanding dulu.

Sales is always a service. Benarkah begitu?
Menurut saya sih, iya. Soalnya, saya tipe orang yang memilih pelayanan baik, daripada harga murah tapi penjualnya jutek hihi.

Dulu, saya punya langganan jamu Jawa. Setiap kali saya datang, selalu disuguhin satu gelas sinom, for free! Bahkan jika saya bawa anak, anak saya juga dikasih.
Padahal, saya cuma beli sebotol dua botol seharga 3000 per botol (saat itu).
Sayang, si ibu sekarang sudah tidak jualan lagi. Konon, dia sakit.

Ada lagi onde-onde. Tiap pengunjung yang bawa anak-anak, langsung disodori onde-onde panas, yang ditaruh di kerucut kertas. Jadi kayak bentuk es krim gitu. Anak-anak pun senang.
Meski anak-anak saya masih bayi dan balita waktu itu, tetap saja diberi onde-onde gratis. Padahal, bayi mana bisa makan onde-onde kan?

Mereka berdua ini bukan perusahaan besar. Hanya pedagang kaki lima di pinggir jalan. Namun, mereka sudah mengerti konsep 'sales is always a service'. Nggak heran, warungnya selalu berjubel pembeli.

Akhir-akhir ini, saya meninggalkan JNE di wilayah A.
Kenapa? Karena pemiliknya, lambat sekali dalam melayani. Dia lambat, karena dia asyik ngobrol sama istri dan anaknya. Jadi, dia mengetik sambil ngobrol, kadang malah berhenti ngetik dan ngobrol seru sama istrinya.
Lha, saya ini dianggap lagi mannequin challenge atau gimana? Paketan seabrek, disambi ngobrol. Duh.
Oya, malah pernah satu kali, dia dan pegawainya ngetik resi saya. Pegawainya, sepertinya bukan pegawai beneran, tapi ART yang didayagunakan. Kelihatan, belum bisa ngetik. Masih tunak-tunuk bingung. Eh ... lha kok si pemilik dengan santainya bilang "Duh lapar nih. Makan dulu ah,"
ASEM!

Sebenarnya, saya dulu langganan JNE di wilayah B. Tapi karena sekarang anak-anak nggak les lagi di wilayah B, maka saya pun pindah haluan ke wilayah A, karena lebih dekat rumah.
Tapi ternyata kok pelayanannya beda banget.
Belum lagi tiap kali saya ngomong, "OKE ya Pak,"
Si Bapak always jawab, "Kenapa OKE? Wong cuma selisih seribu dua ribu aja kok,"

Dan itu tidak dikatakannya sekali dua kali saja. Tapi TIAP KALI saya datang ke sana dan minta OKE, dia selalu ngomong gitu.

Akhirnya, saya pun menemukan JNE lain di dekat sekolah anak saya. Alhamdulillah. Mbaknya masih muda, cekatan, dan nggak bilang "Kenapa OKE?"
Selain itu, si Mbak juga ramah menyapa (jika lagi sepi).

Saya pun memutuskan untuk pindah haluan. No more JNE di wilayah A. Yang di dekat sekolah ini aja deh, sudah pas pelayanannya. Ramah, cekatan, dan tidak banyak nanya.

Jadi, kenapa saya nulis ini?
Nggak ada apa-apa sih. Cuma kepikiran aja, betapa ketatnya persaingan saat ini. Kalau kita tidak memberi sesuatu yang lebih, bagaimana kita bisa bersaing?
Jika tidak bisa memberi lebih, at least jangan memberi kurang.

Buat kamu-kamu yang lagi berbisnis, ingatlah ... sales is always a service ^^

Jangan screen shoot perbincanganmu dengan pelanggan, lalu mentertawakannya ramai-ramai dengan followermu.
Jangan ngrasani pelangganmu di wall terbuka.
Jangan membodoh-bodohkan pelangganmu di wall terbuka, meski dia menanyakan stupid questions.

Terus terang, saya selalu menghindari membeli di olshop yang pernah mengcapture perbincangan dengan customer, lalu menertawakannya ramai-ramai.
Tentu, beda kasus kalau yang dicapture itu adalah penipuan transfer. Nggak apa-apa.

Yah gitu deh. Sebenernya tulisan ini mah ice breaker aja dari kemalasan saya menulis beberapa hari ini. Keasyikan tidur melulu ^^

Daaah ...

IKLAN : 
Komik Peribahasa
Harga : 89 ribu
Ilustrator : Wawan Kungkang
Penulis : Dian K dan Aan W



Kamis, 22 Desember 2016

Kiko and His Green House

Kiko and His Green House

By : Dian Kristiani 

 

Kiko the Rabbit, wants to paint his house. 
He looks at the color chart, and thinks what is the most beautiful color to be applied.
After minutes choosing, Kiko picks green color.
"What a lovely color. I think my house will look fresh and clean," he thinks.

Kiko paints his house with smile in his face.
"What a lovely house I have!"
He keeps painting, and painting, until everything is done.

Suddenly, Bubi the Buffalo, comes.
"Seriously? GREEN? Do you know that green is a terrible color? It can hurt our eyes. I will never never never use green to color my house. Hahaha, you are dumb. Do you think your house now is beautiful? It's a pity if you think that,"

Kiko stares at Bubi. He doesn't understand why Bubi says mean words like that.
"Is your life good, Bubi? Are you happy? Are you OK? Because, a happy person will never never never say mean words,"

Bubi screams.
"OF COURSE I AM HAPPY!"
"So, why you complain about my house's color? This is my house. I will do anything that I thinks good for me," Kiko replies.

Bubi shakes his head.
"But everyday I passes here. And I can't stand seeing an ugly house like this,"

Now, Kiko is really angry.
"I don't do anything wrong with my house. I don't hurt you with my house. I never complain about you, and your house. I like green. What's wrong with that? It's up to me to paint our house with any color that I like. AS LONG AS I DON'T HURT OTHERS!"

Bubi cynically laughs.
"Ah, it's hard to talk to dumb person like you. I only tell you the truth. Green is bad, really really bad,"

Then, Bubi leaves Kiko.
Bubi never talks to Kiko anymore.
Until now, Kiko still doesn't understand why Bubi act like this.
Maybe, Bubi is not happy with his own life.
Maybe ...

Senin, 19 Desember 2016

Fitnah ... Belajar dari Ibas Yudhoyono

Dari dulu, saya nggak suka sama Ibas Yudhoyono.
Tau Ibas, kan? Putra kedua dari mantan presiden kita, Bapak SBY.

Ssst, jangan mikir politik ya. I am too dumb to think about that. IQ saya terlalu tiarap untuk mikirin masalah politik.
Yang nggak saya sukai dari dia itu, PENAMPILANNYA!

Sejak awal kenal dia (cieeh, kenal ... padahal liat koran doang), saya mbatin. Ini anak presiden, horang kaya, kok penampilannya culun bener ya?
Rambutnya teplek lepek.
Bajunya tangan panjang, dan selalu dikancingkan sampai ke leher.
Wes ... not my type bener. (Duile Mak, emangnya mau naksir doi? Inget umur ...)

Bandingkan dong dengan Agus, kakaknya. Agus mah keren. Ya iyalah, pake seragam gitu lho!
Dalam hati saya membatin, kenapa ya? Kenapa harus lengan panjang? Kenapa harus dikancingin sampe ke leher? Kenapa nggak pake baju kece ala boyband? Kenapa rambutnya nggak dijabrik atau dijambul ala kekinian?

Lalu ... bisik-bisik tetangga pun dimulai.
Saya mendengar gosip, bahwa Ibas selalu tampil berlengan panjang, karena ada sesuatu di tubuhnya.
Bahkan, konon dia di kolam renang aja pake baju diving yang serba panjang.
Apa itu yang ada di tubuhnya?
Ssst ... katanya TATO!

Hoaaa, pantesan aja ya dia selalu menutupi tubuhnya.
Mulut saya pun mulai mencong kanan dan mencong ke kiri. Sibuk merumpi ke suami, ih anak presiden, anak tentara, muslim, kok tatonya penuh sebody?

Di antara lambaian bibir saya ke kanan kiri depan belakang mencong barat mencong timur, suami saya bilang.
"Jangan memfitnah orang!"

Saya ngeles dong, kayak bajaj di pengkolan.
"Ih, katanya memang gitu kok. Kata orang-orang lho, memang dia begitu. Kalo nggak, ngapain dia krukupan terus?"

Suami saya ketawa, "Orang tuh ya, kalau udah nggak suka sama seseorang, nyariiii aja aibnya. Parahnya lagi, sampai rela bikin fitnah. Hiiiy,"

Lalu, suami saya meminta saya buka google.
"Wes apapun deh, mau ke IG kek, mau ke mana kek, cari saja gambar Ibas Yudhoyono," perintah suami saya.
Saya pun capcus ke IG.

Oh la la ... ternyata di IG adaaaaaa foto2 Ibas pake celana pendek, pake T-Shirt lengan pendek, lagi nge-gym ama istrinya yang cantik, pake sepatu Nike yang keren, daaaan rambutnya kagak tepleeeek!

Hahahaha, duh dosa bener ya saya. Maafkan saya ya Mas Ibas sudah memfitnahmu meski pada suami sendiri.
BTW, lengan Mas Ibas mulus. Putih. Kagak ada tuh tato-tatoan. Tompel aja kagak ada.

Seriously, he looks gorgeous!
Mungkin perlu digemukin dikit, karena doi terlalu kurus. Tapi overall, dia ganteng juga. Kagak kalah sama Mas Agus.

Lalu, pertanyaan saya berlanjut ke suami.
"Kalo gitu, kenapa dia pake lengan panjang melulu ya? Dan dikancingin rapat-rapat? Trus rambutnya lepek?"

Ini jawaban suami.
"Itu masalah selera. Seleranya dia gitu, kok kamu yang ribut. Masih ingat kan 'de gustibus non est disputandum'. Masalah selera, masalah rasa, tidak bisa diperdebatkan,"

Ouw ... bener juga ya. Masalah selera. Kayak saya, kenapa saya suka pake baju warna gelap dibanding warna cerah. Kenapa saya lebih suka sepatu tali daripada sepatu tertutup. And so on.

Satu pelajaran yang bisa saya garis bawahi kali ini.
Jangan memfitnah!
Kamu boleh nggak suka sama seseorang, tapi JANGAN MEMFITNAH!


OK?



Makasih buat Mas Ibas, dan saya masih berharap suatu saat kamu tampil dengan gaya anak muda yang stylish bin keren :)

*disclaimer:
Ini bukan postingan politik, bukan postingan memuji keluarga Cikeas. Bukaaan. Saya cuma empet aja dengan cara-cara orang sekarang yang suka main fitnah dan hoax, padahal kebenarannya tidak seperti itu.
Mari, berpikir cerdas. Kita ini manusia, bukan monyet. Manusia punya akal budi, bukan napsu belaka.




Minggu, 04 Desember 2016

Berapa sih penghasilan penulis buku anak?

Saya sering ditanya, bisakah saya hidup HANYA dari menulis buku anak?
Maksudnya tentu, tanpa gaji suami.
Jawab saya : AMAT BISA.
Untuk hidup satu keluarga, juga AMAT BISA.

Saya juga sering diminta memberi motivasi pada ibu-ibu yang ingin menulis buku anak.
Berapa sih penghasilan seorang penulis buku anak?
Maksudnya, supaya ibu-ibu itu tergerak untuk ikut menulis.
Indonesia ini darurat buku anak yang bagus. Kita butuh banyak sekali buku anak yang bagus, untuk memberi fondasi sikap, sopan santun, keimanan, dll pada anak.

Nggak bisa dipungkiri, kan? Kalau kita bicara masalah uang, maka mata pun bersinar-sinar.
Banyak yang terperangah "wow".
Banyak yang nggak percaya. Ternyata, kita bisa kok hidup dengan profesi sebagai penulis buku anak.

Tahun 2010 saya berhenti dari pekerjaan. Lebih tepatnya, diberhentikan karena kantor Surabaya ditutup.
Jabatan terakhir saya adalah Senior Merchandiser.
Gaji saya saat itu, jauh di atas UMR, meski UMR 2017 sekalipun.

Waktu itu, saya galau. Tawaran pekerjaan lain ada, dengan gaji yang lebih banyak. Wajar sih, udah senior kan? (baca: udah tua).
Namun, saya sadar bahwa sulung saya mau masuk SD.
Saya ingin, mengawasi semua perkembangannya.
Apa saja PR nya? Apa tugasnya? Ulangan apa? Dll dll.
Saya ingin mengantar, dan menjemputnya tiap hari. Saya ingin ada di sisinya, ketika dia pulang dan makan siang bersama saya.
Sudah cukup rasanya, 6 tahun dia makan siang bareng Mbak Warni, mantan ART saya.

Jika tidak bekerja, bagaimana dengan keuangan kami? Sudah pasti tidak cukup.
Namun, saya punya keyakinan. Dalam satu atau dua tahun, saya bisa mendapat uang lagi.
Saat itu, saya sudah mendapatkan royalti.
Mau tahu berapa jumlah royalti saya?
Sekitar dua juta rupiah. Per semester.
Dikit, ya? Coba dibagi enam bulan. Berarti, sebulannya sekitar 350 ribu rupiah.
Duit segitu, dibandingin gaji saya, apa artinya?

Tapi saya pantang menyerah.
Saya bilang ke suami : saya tidak mau bekerja lagi, titik.
Suami mempersilakan, dan kami berdua mulai berhitung cermat.
Kami harus melakukan penghematan besar-besaran.
Kami bahkan membuat tabel lauk pauk yang bisa dimasak dengan uang 10 ribu per hari.

Saya terus menulis.
Saya nggak pernah berhenti menulis.
Menulis, kirim, menulis, kirim.
Saya juga mengirim ke majalah. Honornya amat membantu untuk hidup sehari-hari. Lumayan banget.
Dan, dua tahun kemudian, saya sudah memanen hasil.
Royalti saya, sekitar 18-20 juta per semester.  Berarti, per bulan saya sudah mendapatkan tiga juta lebih.
Itu sudah sepersekian gaji saya dulu. Masih jauh, tapi sudah menunjukkan titik cerah.

Terus dan terus menulis.
Saya tipe orang yang fokus. Saya tidak terpengaruh dengan si A si B yang menulis genre ini, itu, dan sukses.
Saya yakin, dunia saya ada di sini. Meski sempat juga belajar nulis genre lain, tapi itu lebih sebagai pengayaan diri. Bukan untuk banting setir dan ikut-ikutan.

Jadi, saya tekankan sekali lagi.
Jika dirimu fokus, maka mengandalkan nafkah dari menulis bacaan anak sangatlah bisa.
Percayalah.
Berapa royalti saya sekarang?
Tak elok jika disebut, hehe.
Yang pasti, sudah jauh meninggalkan angka gaji saya yang dulu. Jauh sekali, hingga kamu harus naik gojek atau grab untuk mengejarnya.

Enak, kan?
Tentu terlihat enak.
Namun, di balik segala kenikmatan, tentu ada perjuangan.

Saya hanya bisa meyakinkan kalian kalian yang ingin menulis buku anak.
Jika memang itu passionmu, mulailah segera.
Tapi jangan hanya ikut-ikutan.
Karena kalau ikut-ikutan, yang ada hanya nulis sekali, terus bete karena nggak kunjung terbit.

Yuk, mulai menulis.
Indonesia butuh banyak bacaan anak yang bagus dan berkualitas.

Salam,

Dian Kristiani
Penulis buku anak
Mommy of two fabulous boys

IKLAN






Judul     : Kumpulan Dongeng Binatang Terpopuler Sepanjang Masa
Hal       : 86 hal full color
Isi  : 20 dongeng binatang
Harga   : Rp. 59,500
Penerbit: CIKAL AKSARA
Dilengkapi dengan fakta unik tiap binatang